Sebuah Puisi Perenungan Bangsa Kita, Negara Kesatuan Replubik Indonesia
Gerhana rembulan hampir total, malam gelap gulita
Matahari berada satu garis dengan bumi dan rembulan
Cahaya matahari yang memancar ke rembulan tidak sampai ke permukaan rembulan karena di tutupi oleh bumi, sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi
Matahari adalah lambang Tuhan
Cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi, yang semestinya dipantulkan oleh rembulan
Rembulan adalah para Kekasih Allah, para Rasul, para Nabi, para Ulama’, para Cerdik Cendekia, para Pujangga, dan siapa pun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya di bumi
Karena Bumi menutupi cahaya matahari, maka malam gelap gulita
Dan di dalam kegelapan……
Segala yang buruk terjadi
Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas
Orang menyangka kepala adalah kaki
Orang menyangka utara adalah selatan
Orang bertabrakan satu sama lain
Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain
Di dalam kegelapan…..
Orang tidak punya pedoman yang jelas, untuk melangkah, akan kemana melangkah, dan bagaimana melangkah
Ilir ilir……
Kita memang sudah nglilir, kita sudah bangun, sudah bangkit, bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari
Namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum.
Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut, namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita.
Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik
Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian “Kenapa bukan kita yang maling ?”
Kita mencaci para penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya
Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara syaitan, yakni melarangnya untuk insyaf dan bertaubat
Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur
Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan
Kita menghujat para penindas dengan riang gembira, sebagaimana iblis, yakni kita halangi jalannya untuk memperbaiki diri
Siapakah selain syaitan, iblis dan dajjal
Yang menolak khusnul khotimah manusia
Yang memblokade pintu surga
Yang menyorong mereka ke pintu neraka
Sesudah ditindas, kita mempersiapkan diri untuk menindas
Sesudah diperbudak, kita siagakan diri untuk mempeerbudak
Sesudah dihancurkan, kita susun barisan untuk menghancurkan
Yang kita bangkitkan bukan pembaharuan kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan
Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan, melainkan menggelegaknya kecurigaan
Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah
Yang perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara
Yang kita kembangsuburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri
Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta, melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati
Pilihanku dan pilihanmu adalah, apakah kita akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayaNya
Atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat agar kita bisa dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali
Ke BUMI.
اللهم اغفر لنا اللهم اغفر لنا يا غفار يا غفار
اللهم افتح لنا أبواب الرحمة، أبواب البركة، أبواب النعمة، أبواب القوة، أبواب العافية، وأبواب الخيرات
اللهم اغفر لنا يا غفار يا غفار
oleh : Emha Ainun Najib

Tidak ada komentar:
Posting Komentar