LIBERAL, KEBEBASAN dan الحرية
Kebebasan yang tidak terikat oleh suatu apapun merupakan cita-cita setiap insan yang mencintai, dicintai dan tercintai.
Jumat, 13 Mei 2011
Gerhana rembulan hampir total, malam gelap gulita
Matahari berada satu garis dengan bumi dan rembulan
Cahaya matahari yang memancar ke rembulan tidak sampai ke permukaan rembulan karena di tutupi oleh bumi, sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi
Matahari adalah lambang Tuhan
Cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi, yang semestinya dipantulkan oleh rembulan
Rembulan adalah para Kekasih Allah, para Rasul, para Nabi, para Ulama’, para Cerdik Cendekia, para Pujangga, dan siapa pun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya di bumi
Karena Bumi menutupi cahaya matahari, maka malam gelap gulita
Dan di dalam kegelapan……
Segala yang buruk terjadi
Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas
Orang menyangka kepala adalah kaki
Orang menyangka utara adalah selatan
Orang bertabrakan satu sama lain
Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain
Di dalam kegelapan…..
Orang tidak punya pedoman yang jelas, untuk melangkah, akan kemana melangkah, dan bagaimana melangkah
Ilir ilir……
Kita memang sudah nglilir, kita sudah bangun, sudah bangkit, bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari
Namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum.
Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut, namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita.
Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik
Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian “Kenapa bukan kita yang maling ?”
Kita mencaci para penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya
Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara syaitan, yakni melarangnya untuk insyaf dan bertaubat
Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur
Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan
Kita menghujat para penindas dengan riang gembira, sebagaimana iblis, yakni kita halangi jalannya untuk memperbaiki diri
Siapakah selain syaitan, iblis dan dajjal
Yang menolak khusnul khotimah manusia
Yang memblokade pintu surga
Yang menyorong mereka ke pintu neraka
Sesudah ditindas, kita mempersiapkan diri untuk menindas
Sesudah diperbudak, kita siagakan diri untuk mempeerbudak
Sesudah dihancurkan, kita susun barisan untuk menghancurkan
Yang kita bangkitkan bukan pembaharuan kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan
Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan, melainkan menggelegaknya kecurigaan
Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah
Yang perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara
Yang kita kembangsuburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri
Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta, melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati
Pilihanku dan pilihanmu adalah, apakah kita akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayaNya
Atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat agar kita bisa dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali
Ke BUMI.
اللهم اغفر لنا اللهم اغفر لنا يا غفار يا غفار
اللهم افتح لنا أبواب الرحمة، أبواب البركة، أبواب النعمة، أبواب القوة، أبواب العافية، وأبواب الخيرات
اللهم اغفر لنا يا غفار يا غفار
oleh : Emha Ainun Najib
Minggu, 17 Oktober 2010
TASAWWUF WAHIDIYYAH
A. PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi ganda (Double dimension) yakni dimensi Psikis (batin) yang meliputi, 'Aqal, Qalb, Ruh, dan Nafs dan juga dimensi Jasmaniah (dzahir) yang nampak seperti mata, telinga, hidung, mulut, kaki, atau bisa disebut badan yang nampak oleh indra. Hal inilah yang pada perkembangannya manusia adalah makhluk yang paling dinamis, maksudnya adalah tingkah laku manusia, akhlak, moral yang nampak itu tidak hanya dipengaruhi setimulus dari dalam yang bersifat sbyektif (nisbi) melainkan juga dipengaruhi oleh stimulus yang berasal dari luar (Keadaan lingkungan).
Diatas teleh disinggung bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis, kedinamisan itu terlahir dalam keaadan fitrah (suci) yang cenderung pada potensi ketuhanan (Spritual), Tapi dalam perkembangannya manusia mengalami benturan-benturan yang mengakibatkan manusia jauh atau menjauh dari garis ketuhanan. Lebih-lebih pada zaman sekarang (modern) banyak orang sudah lupa dengan kebradaanya sebagai manusia yang wajib menjalanlan segala printah-printah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Banyak yang lupa dengan istilah Taubat, sabar, Zuhud, Wara, Tawakal, dan Ridla.
Dari kejenuhan orang dengan dunianya munculnya organisasi-organisasi yang berbasis keagamaan yang bisa disebut dengan Thariqah
Di Indonesia terdapat macam-macam Thariqah diantaranya hanya merupakan terkat local yang berdasarkan pada ajaran-ajaran dan amalan-amalan guru tertentu. Umpamanya Shalawat Wahidiyah di Jawa Timur.
Selanjutnya akan kita kaji lebih dalam tentang Thariqah Shalawat Wahidiyah dalam pembahasan. Selamat membaca!
B. POKOK PEMBHASAN
Dalam makalah ini akan dibahas beberapa pembahasan agar yang ditulis sesuai dan tidak menyimpang dari keinginan penulis, adapun yang dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikiut:
a. Tasawuf
b. Thariqah
c. Shalawat Wahidiyyah dan konsep suluknya
C. PEMBHASAN
a. Tasawuf
Pada zaman Rasullah SAW para Sahabat serta Tabi'in belum dikenal istilah Sufi. Menurut al-Qusyairi, para Sahabat dan Tabi'in tersebut lebih menyukai dan merasakannya sebagai suatu penghormatan apabila mereka disebut sebagai sahabat. Dengan demikian, istilah-istilah seperti: 'abid, zahid, dan kemudian sufi yang digunakan untuk menyebut para ahli ibadah baru dikenal setelah generasi sahabat dan Tabi'in ini. Istilah sufi muncul pada abad kedu kedua Hijriyyah, setelah wafatnya Nabi, Sahabat dan Tabi'in. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Abu Hasyim, seorang zahid dari syiria (W. 780 M).
Mengenai istilah Sufi yang menjadi akar kata dari Tasawuf terdapat beberapa pendapat mengenai asal kata istilah tersebut:
1. Tasawuf berasal dari Kata "suffah" atau "suffah al-Masjid" artinya serambi masjid. Istilah ini dihubungkan dengan suatu tempat di masjid nabawi yang didiami oleh sekelompok sahabat dan mereka dikenal dengan "ahl al-Suffah"
2. Pendapat lain mengatakan bahwa kata Tasawuf berasal dari kata "shafa" artinya bening, suci, bersih atau murni. Ini sesuai dengan orang orang-orang sufi yang niatnya itu bersih dan suci dari keinginan-keinginan hawa nafsu.
3. Tasawuf berasal dari kata "Shaf" yang dinisbatkan kepada para sahabat nabi yang selalu pada barisan paling depan ketika Shalat berjama'ah.
4. Ada yang mengatakan Tasawuf berasal dari nama orang penjaga ka'bah dizaman jahiliyyah yaitu Suffah ibn Murrah
5. Ada pendapat yang mengatakan kata Tasawuf berasal dari bahsa yunani yaitu "Shafia" (Kebijaksanaan) sama dengan orang-orang sufi itu sangat bijaksana.
6. Sebagian pendapat lain cenderung pada istilah Shufi berasal dari kata shuf (wol) Karena orang-orang yang ahli ibadah zaman dahulu itu sangat sederhana, kesederhanaanya itu ditunjukkan dengan memakai pakaian yang terbuat dari wol yang kasar dan sangat murah harganya
Sama halnya dengan pengertian secara bahasa, menurut istilah terapat beragam pendapat mengenai pengertian Tasawuf. Beragamnya pengertian Tasawuf karena terkait dengan pengalamana batin para sufi dalam melakukan hubungan dengan Tuhan, sehingga factor rasa lebih dominan dari pada rasio. Hal ini bisa diibaratkan dengan orang yang baru jatuh cinta, bila ditanya tentang definisi cinta maka mereka akan menjawab bermacam-macam jawaban, lain orang lain pengertian dalam mendefinisikan hal batinnya (cinta)
Disini akan diberi beberapa definisi Tasawuf yang berasal dari beberapa tokoh sebagai berikut:
1. Menurut Sahal ibn Abdullah al-Tustari, sufi ialah orang yang selalu membersihkan dirinya dari segala kotoran (baik lahir maupun batin) selalu bertafakur (berfikir), selalu berhubungan dengan Allah SWT dan memutuskan hubungan dengan manusia lainnya (dalam hal-hal yang tidak bermanfaat) dan selalu meninggalkan kemewahan dan kesenangan duniawi.
2. Menurut Ma'ruf al-Karki, Tasawuf adalah mengambil hakekat dan putus asa terhadap apa yang ada ditangan makhluk. Maka barang siapa yang tidak benar-benar fakir, maka tidak benar-benar Tasawuf.
3. Menurut al-Kanani, Tasawuf adalah akhlak, apabila bertambah akhlakmu, maka bertambahlah kesucianmu.
4. Abu Muhammad al-Jurayri berkata: "Tasawuf adalah membangun kebiasaan yang terpuji dan penjagaan hati dari semua keinginan dan nafsu.
5. Menurut Abu Bakar al-Syibli, orang-orang sufi adalah anak-anak kecil yang ada dipangkuan Allah SWT.
Memang, memberikan suatu kesimpulan tentang Tasawuf bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun demikan tetap bisa diberi sebuah benang merah tentang pengertian Tasawuf secara umum yaitu ilmu yang mempelajari usaha membersihkan diri, berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dan berpegang teguh pada Perintah Allah dan Rasulullah.
Pada perjalanan perkembangan Tasawuf dari masa pembentukan yang terkenal dengan Khouf dan raja' (Hasan Bisri) sampai dengan masa purifikasi (pemurnian) yang di pelopori oleh Ibnu Taimiyah.
Berangsur-angsur Tasawuf (orang-orang yang berTasawuf :sufi) menjadi terorganisir mengelompok yang sampai sekarang bisa disebut dengan Thariqah (Kumpulan orang-orang sufi). Menganai Thariqah baca selanjutnya!.
b. Thariqah
Pengertian Thariqah secara Etimologi adalah berasal dari dari bahasa Arab yaitu الطريق yang berarti jalan, metode (cara), dan menurut pandangan para ulam' atau secara Terminology yaitu, jalan atau petunjuk dalam melaksanakan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan yang dicontohkan oleh beliau dan para sahabatnya dan tabi'in.
Thariqah adalah suatu cara atau pendakian yang ditempuh oleh para Salik untuk mencapai tujuan (dekat dengan Allah SWT). Sebagai mana yang dijelaskan oleh Syekh Zainuddin bin Ali dalam kitab Nadzom"Hidayatul Adzkiya' IIa Thariqul Auliya"
Thariqah dilhat dari segi Existensi amalan nya yang bertujuan hendak mencapai pelaksanaan syari'at secara tertib dan teratur serta teguh diatas norma-norma yang semestinya dikehendaki oleh Allah SWT dan Rasulla-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا ﴿16﴾
"Dan bahwasanya: jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (QS. Jin: 16).
Ayat ini menunjukkan secara formal (bunyi lafadznya) maupun matrial (isi yang tersirat di dalamnya) adalah jelas merupakan sumber hukum diijinkan melaksanakan amalan-amalan Thariqah. Karena dengan mengamalkan Thariqah akan dapat diperoleh tujuan melaksanakan syari'at Islam yang sebenar-benarnya sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT dan Rasull-Nya.
Dan Thariqah dilihat dari segi materi pokok amalan yang berupa Wirid (Dzikrullah), yang bersifat Mulazamah, yakni secara terus menerus . Hal ini sesuai dengan firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿41﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ﴿42﴾
"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya [41]Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang".[42] (QS. Al-ahzab: 41-42).
Kedua Ayat diatas bertujuan menguatkan bahwa Thariqah adalah ajaran yang terdapat dalam ajaran islam agar tidak ada orang yang berfikiran negatif tentang Thariqah.
Dalam perkembangan Thariqah, Menurut al-Khalik, orang yang pertama kali meletakkan aturan tenang Thariqah ialah seorang sufi iran bernama Muhammad Ahmad al-Maihimy (W. 430 H) yang terkenal dengan nama Abu Abi Said.
Pada abad kelima dan keenam Hijriyyah Thariqah mulai menyebar berpindah dari Iran menuju kearah barat. Maka muncullah Thariqah al-Rifa'iyah dan al-Qadiriyyah di Irak, al-Ahmadiyyah dan al-Syadzaliyyah di mesir dan diikuti munculnya Thariqah al-Dasuqiyyah juga di Mesir. Setelah itu Semakin lama semakin berkembang dan menjadi sebuah organisasi.
Pemaparan diatas memberitahukan bahwa, trem Thariqah dalam dunia islam mempunyai dua pengertian; pertama, Thariqah bermakana metode yang diterpkan oleh para sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kedua bermakan organisasi.
Ciri dari Thariqah sebagai organisasi adalah adanya Seorang guru (Mursyid), murid (Orang yang belajar) dan ajaran (metode) Jadi dapat ditarik benang merah untuk pembahasan selanjutnya yaitu tentang Shalawat Wahidiyyah dan konsep suluknya sebagai sebuah Thariqah yang berasal dari dan asli Jawa.
c. Shalawat Wahidiyah
Sejarah singkat tentang Shalawat wahidiyyah di mulai kira-kira awal bulan juli 1959. Pada waktu itu Hadaratul Mukaram kiai Haji Abdul Majid Ma'ruf pengasuh pondok pesantren kedunglo, desa Bandar lor kodya kediri, menerima suatu alamat ghaib dalam keaadaan terjaga dan sadar, bukan dalam mimpi. Maksud dan alamat ghaib tersebut ialah" Supaya mengankat Manusia". Yang dimaksud adalah ikut serta memperbaiki atau membangun mental masyrakat hususnya lewat "jalan batiniyyah". Terutama mental kesadaran kepeada Allah dan Rasul-Nya.
Sesudah menerima alamat Ghaib tersebut beliau memutuskan untuk bermujahadah kepada Allah, mendekatkan diri kepada Allah, memohon bagi kesejahtraan umat dan masyrakat terutama pada masalah perbaikan moral , akhlaq masarakat pada waktu itu, do'a-do'a yang dibaca beliau pada waktu itu adalah berupa bermacam-macam shalawat.
Dan kira-kira pada awal tahun 1963, beliau menerima alamat ghaib lagi seperti kejadian pada tahun 1959. Alamt ghaib yang kedua ini bersifat peringatan terhadap alamat yang pertama, tidak lama sesudah itu beliau menerima alamat ghaib yang ketiga, selanjtnya beliau lebih prihatin dan meningkatkan mujahadah kepada Allah. Dalam keadaan seperti itu sauna batin yang selau ingat kepada Allah dan Rasul-Nya, beluai mengarang suatu do'a shalawat dan selanjutnya dalam perkembangannya Shalawat itu diberi nama dengan Shalawat Wahidiyyah.
Shalawat diambil dari kata shalah yang artinya mengisaratkan peribadatan ritual (shalat) sedang kata kerjanya shalla (menyanjung, memberkahi, sering diterjemahkan sebagai mendoakan ) merupakan istilah yang berasal dari bahasa Arab, yang akar katanya mengandung pengertian "mengagungkan" dalam hal ini al-Qur'an menyatakan: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (33: 56).
Sedangkan Wahidiyyah diartiakan sebagi "keunikan, kesatuan, atau keunggulan". Dan di dalam Ensiklopedi, Wahidiyah diartikan sebagai kelompok yang termasuk dalam salah satu sekte dalam kelompok Karamiyyah Al-Mujassimah. Mereka menafsirkan makna Uzmatullah (keagungan Allah SWT) dengan pengertian bahwa hanya Allah SWT-lah yang bersemayam di atas Arsy, Dia di atas semua bagian Arsy dan semua Makhluk.
Shalawat Wahidiyah berpusat pada badan penyiaran dan pembinaan Wahidiyah Kedunglo Kota Madya Kediri Jawa Timur. Shalawat Wahidiyah dan ajaran Wahidiyah sudah diijazahkan secara mutlak oleh maullifaya. Shalawat Wahidiyah berfaedah menjernihkan hati dan Ma'rifat Billah. Siapa saja dan dari manapun memperolehnya telah diberikan izin mengamalkan dan menenapkan, bahkan dianjurkan supanya diajarkan kepada masyarakat luas dan tanpa pandang bulu dengan iklas dan bijaksana.
Cara pengamalan:
1. Harus niat semata-mata mengabdikan diri kepada Allah dengan iklas tanpa pamrih, dan memuliakan dan mencintai Nabi Muhammad SAW.
2. Diamalkan selama 40 hari berturut-turut.
3. Bagi yang belum dapat membaca seluruhnya, boleh membaca bagian-bagian mana yang sudah didapati lebih dahulu.
Ajaran Wahidiyah yaitu berusaha melihat hati dengan:
- LILLAH: Sesungguhnya amal perbuatan apa saja, baik yang berhubungan langsung dengan Allah dan Rasulnya SAW, maupun yang berhubungan di dalam masyrakat, dengan sesama makluk pada umumnya, baik yang wajib, yang sunnah atau yang wenang , asal bukan perbuatan yang merugikan atau bukan perbuatan yang tidak diridhai Allah, melaksankannya supanya disertai niat dan tujuan mengapdikan diri kepada Allah yang maha Esa dengan ikhlas tanpa pamrih.
- BILLAH: Menyadari dan merasa senan tiasa kapan dan dimanapun berada, bahwa segala sesuatu termasuk gerak-gerik lahir bathin adalah Allah yang menciptakan dan menitahkanya.
- LIRRASUL: Mengikuti jejak tuntunan Rasulullah SAW.
- BIRRASUL: Menyadari dan merasa bahwa segala sesuatu termasuk gerak-gerik lahir batin (yang diridloi Allah) adalah sebab jasa Rasulullah SAW.
- LILGHAUTS ?: Harus mengikuti bimbingan ghouts hadza zaman
- BILGHAUTS?tingkah laku kita itu berkat jas ghauts hadza zaman.
- YUKTI KULLA DZII HAQQIN HAQQOH:
Mengisi dan memenuhi segala bidang kewajiban, melaksanakan kewajiban disegala bidang tanpa menuntut hak. Baik kewajiban terhadap Allah dan Rasul juga terhadap makhluk pada ummnya
- TAQDIMUL AHAM FALAHAM TSUMMAL ANFA' FAL ANFA': Melaksankan kewajiban dengan mendahulukan yang lebih penting (Ahammu) jika sama-sama penting, supanya dipilih yang lebih besar manfaatnya (Anfa'u)
Pengamalan Shalawat Wahidiyah:
1. Memusatkan perhatian kepada Allah.
2. Niat semata-mata karena Allah, dan niat mengikuti jejak Rasulullah.
3. Melaksanakan semua atas titah Allah, karena Syafaat dan jasa Rasulullah SAW.
4. Mengakui dengan jujur bahwa kita penuh dosa dan banyak berbuat dzalim.
5. Seluruh amalan dihaturkan kepada Nabi Muhammad SAW, Ghousu Ha dhaz, Zaman dan seterusnya.
Shalawat Wahidiyah seperti halnya dengan shalawat-shalawat yang lain , adalah termasuk diantara alat berhubungan kepada Allah SWT dan berkaitan dengan Rasulullah SAW. Oleh karena itu maka didalam penyiarannya Wahidiyah mengikuti fungsi Rasulullah SAW yang كَافَّةً لِلنَّاسِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ Didalam Wahidiyah tidak pandang bulu siapa saja yang mau tanpa ada batasan suku, golongan, ras, bangsa, agama, umur dan jenis kelamin, pokokoknya mau diajak mengamalkan. Tanpa ada syarat-syarat apapun demikian "ijazah mutlak" dari maullif Shalawat Wahidiyah. Ijazah Mutlak dan bersifat umum, luas dan dipermudah.
I. KESIMPULAN
Dalam perkembangannya Tasawuf dan Thariqah saling berhubungan, maksudnya adalah sama-sama menjadi metode untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kalau kita lihat Tasawuf belum tentu Thariqah, kalau Thariqah mesti Tasawuf karena Thariqah adalah organisasi orang-orang sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Salah satu Thariqah yang terdapat di jawa adalah Thariqah Shalawat Wahidiyyah, Shalawat Wahidiyah terdapat di Jawa Timur, Shalawat ini hanya tumbuh di daerah Jawa Timur tepatnya di Kediri. Shalawat Wahidiyah ini dianggap sebagai ajaran Thariqah, namun bacaan Shalawat ini hanya bersifat mendo'akan keberkahan. Di dalam Shalawat Wahidiyah ini juga terdapat konsep suluk yaitu suatu cara atau tingkah laku yang telah dikonsep dalam Shalawat Wahidiyah.
II. PENUTUP
Demikan yang dapat kami paparkan, Pepatah mengatakan no body is perfect (tidak ada manusia yang semprna) maka dari itu segala kurang yang terdapat dalam makalah yang berjudul " Shalawat Wahidiyyah Dan Konsep Suluknya" Kami mohon maaf yang seikhlas-ikhlasnya dan selanjutnya mari kita diskusikan makalah ini semoga membawa jalan kebenaran kepada kita. Amiin
Selasa, 07 September 2010
Gelar Haji, sah atau tidak ?
Allah sih nggak marah, namanya orang Indonesia dengan jarak sejauh itu masak makai satu huruf "H" aja nggak boleh, dan itu juga nggak dosa kok, tapi kan lucu gitu loch !
Nah dari itu mari kita benarkan dan luruskan hal-hal yang sepele seperti ini, baru kita mengadakan REFORMASI di segala bidang. SETUJU !
Minggu, 05 September 2010
Lagu DARUL MA'RIFAT, By : SNAMA
akn indahnya Ilmu Ilahy
Di tempat ini ku berjuang
Akan benarnya Agama Allah
Suasanamu yang asri dan damai
Membuatku slalu rindu akan namamu
Hati yang harmonis dan tulus
Membuatku slalu ingin sebut namamu
DARUL MA'RIFAT
