About me

Foto saya
Ungaran, Semarang, Indonesia

Jumat, 13 Mei 2011

Sebuah Puisi Perenungan Bangsa Kita, Negara Kesatuan Replubik Indonesia



Gerhana rembulan hampir total, malam gelap gulita

Matahari berada satu garis dengan bumi dan rembulan

Cahaya matahari yang memancar ke rembulan tidak sampai ke permukaan rembulan karena di tutupi oleh bumi, sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi

Matahari adalah lambang Tuhan

Cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi, yang semestinya dipantulkan oleh rembulan

Rembulan adalah para Kekasih Allah, para Rasul, para Nabi, para Ulama’, para Cerdik Cendekia, para Pujangga, dan siapa pun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya di bumi

Karena Bumi menutupi cahaya matahari, maka malam gelap gulita

Dan di dalam kegelapan……

Segala yang buruk terjadi

Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas

Orang menyangka kepala adalah kaki

Orang menyangka utara adalah selatan

Orang bertabrakan satu sama lain

Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain

Di dalam kegelapan…..

Orang tidak punya pedoman yang jelas, untuk melangkah, akan kemana melangkah, dan bagaimana melangkah

Ilir ilir……

Kita memang sudah nglilir, kita sudah bangun, sudah bangkit, bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari

Namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum.

Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut, namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita.

Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik

Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian “Kenapa bukan kita yang maling ?”

Kita mencaci para penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya

Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara syaitan, yakni melarangnya untuk insyaf dan bertaubat

Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur

Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan

Kita menghujat para penindas dengan riang gembira, sebagaimana iblis, yakni kita halangi jalannya untuk memperbaiki diri

Siapakah selain syaitan, iblis dan dajjal

Yang menolak khusnul khotimah manusia

Yang memblokade pintu surga

Yang menyorong mereka ke pintu neraka

Sesudah ditindas, kita mempersiapkan diri untuk menindas

Sesudah diperbudak, kita siagakan diri untuk mempeerbudak

Sesudah dihancurkan, kita susun barisan untuk menghancurkan

Yang kita bangkitkan bukan pembaharuan kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan

Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan, melainkan menggelegaknya kecurigaan

Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah

Yang perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara

Yang kita kembangsuburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri

Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta, melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati

Pilihanku dan pilihanmu adalah, apakah kita akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayaNya

Atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat agar kita bisa dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali

Ke BUMI.



اللهم اغفر لنا اللهم اغفر لنا يا غفار يا غفار

اللهم افتح لنا أبواب الرحمة، أبواب البركة، أبواب النعمة، أبواب القوة، أبواب العافية، وأبواب الخيرات

اللهم اغفر لنا يا غفار يا غفار



oleh : Emha Ainun Najib